Raih Habibie Prize 2021, Nyoman Nuarta Sebut Hanya Bisa Mematung

Seniman patung Nyoman Nuarta dianugerahi penghargaan Habibie Prize 2021 dari Bidang Ilmu Kebudayaan. Pria kelahiran Tabanan, Bali, 70 tahun yang lalu, itu menjadi satu dari empat pemenang penghargaan yang di antaranya mendapatkan uang senilai US$ 25 ribu atau setara Rp 365 juta itu.

Habibie Prize, sebelumnya bernama Habibie Award, merupakan salah satu upaya untuk melanjutkan harapan dan cita-cita Bacharuddin Jusuf Habibie membangun SDM Indonesia unggul dan berdaya saing. Presiden RI ketiga yang dijuluki Bapak Teknologi itu lalu menginisiasi penghargaan untuk memberikan semangat kepada mereka yang mampu berinovasi untuk membangun bangsa.

Nyoman memiliki salah satu karya yang dinilai fenomenal, yaitu Garuda Wisnu Kencana (GWK), patung yang menjadi lanskap ikonik dan objek wisata terkenal di Bali. Patung berwujud Dewa Wisnu—Dewa Pemelihara dalam Agama Hindu—yang mengendarai burung garuda itu menjulang tinggi di dalam Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana.

“Saya itu merasa enggak ada yang lain kecuali hadiah bakat mematung. Jadi kalau bakat ini saya abaikan, dan tidak sungguh-sungguh mengembangkannya, saya bisa bertemu neraka,” ujar dia dalam acara penganugerahan Habibie Prize 2021 yang digelar virtual, Rabu, 17 November 2021.

Lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB), itu berproses membangun patung GWK selama 28 tahun. Bahkan dengan karyanya tersebut, Nyoman menciptakan terobosan penting dalam teknik berkarya seninya dan menjadikan GWK menjadi salah satu karya patung tertinggi di dunia.

Hingga sekarang, Nyoman Nuarta sudah lebih dari 45 tahun lamanya menggeluti bidang kesenian dan menjadi maestro khususnya di bidang seni patung. Selain itu patung GWK, di Bali, Nyoman juga membuat patung Presiden RI pertama Soekarno, termasuk Monumen Jalesveva Jayamahe di Surabaya.

Bahkan karya seni patungnya telah tersebar di berbagai penjuru nusantara. “Saya menginginkan karya-karya saya bisa dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat,” katanya.

Pengalaman profesional dimulai sejak mahasiswa, di antaranya bergabung dalam Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia pada tahun 1975 dengan mengikuti pameran kelompok ini di Bandung, Jakarta, dan Australia. Dia juga memenangkan sayembara Patung Proklamator RI dari Presiden Soeharto saat masih kuliah.

Dalam pengembangan profesinya secara lebih lanjut pada bidang seni rupa, Nyoman mendirikan PT Siluet Nyoman Nuarta (Studio Nyoman Nuarta) pada tahun 1975 dan melalui berbagai rintangan panjang, perusahaannya kini didukung oleh sekitar 150 pekerja dari berbagai disiplin ilmu.

Selain itu, peraih gelar Honoris Causa dari ITB pada Juli 2021 itu juga membangun NuArt Sculpture Park, taman patung di Bandung untuk berbagi nilai luhur budaya melalui kegiatan kesenian. Bagi Nyoman, NuArt merupakan mimpinya sejak menjadi mahasiswa yang menginginkan taman patung atau museum.

“Karena yang saya tahu, sampai saat ini Indonesia belum memiliki museum atau galeri modern art atau kontemporer. Museum yang saya anggap canggih,” katanya lagi.

Yang terbaru, Nyoman juga memenangkan sayembara konsep desain istana negara ibu kota baru di Kalimantan Timur, pada awal tahun ini. Dia memiliki konsep istana negara burung garuda, yang merupakan sinergi antara seni, sains, dan teknologi. Desain yang dibuatnya juga menuai kontroversi dan mendapatkan banyak respons dari berbagai ahli.

“Bagi saya rintangan merupakan rangsangan semangat untuk terus berkarya, dari sepanjang perjalanan kerja kreatif, saya mendapatkan banyak pengalaman,” tutur Nyoman Nuarta sambil menambahkan bahwa teknologi dan sains sudah waktunya menjadi bagian yang terintegrasi dalam proses kerja seorang seniman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.